Biro Umroh Semarang | Dewangga Lil Haji Wal Umroh. Salah satu wajib haji adalah melempar jumrah. Kewajiban ini dibarengi dengan kewajiban mabit (menginap) di Mina. Jarak antara pemondokan di Mina dengan area melempar, tidak kurang dari 4 KM. Artinya, pada saat jamaah melakukan prosesi melontar jumrah, setidaknya harus berjalan sejauh 8 KM pulang pergi . Kondisi ini terasa semakin berat seiring dengan pergerakan ribuan jamaah secara bersamaan hingga terjadi kepadatan di jalan.

Dengan kondisi seperti itu, bagaimana dengan jamaah yang lanjut usia dan memiliki risiko kesehatan yang tinggi. Bolehkah mewakilkan lempar jumrahnya? Menurut Abdul Mu’thi, badal diberikan sebagai bentuk aturan khusus atau ketentuan khusus dalam ibadah haji.

Ada dua kategori badal. Pertama, badal secara keseluruhan, yaitu badal yang dilakukan sejak dari Tanah Air. Misalnya, ada yang punya nazar untuk melakukan ibadah haji, tetapi karena suatu hal, bisa karena sakit, atau wafat, itu tidak bisa ditunaikan.

Kedua, badal haji bisa dilakukan di Tanah Suci. Ini dilaksanakan, ketika, misalnya setibanya di Tanah Suci, mereka sakit, atau dalam kondisi lain, yang menyebabkan ketidakmemungkinkannya menunaikan salah satu rukun atau wajib ibadah haji.

Dalam konteks yang kedua, badal haji dapat diberlakukan bagi jemaah yang berhalangan mengerjakan wajib haji dan sebagian rukun haji. Nah, wajib haji itu boleh dibadalkan termasuk jumrah.

Badal lempar jumrah itu menjadi boleh karena kondisi tertentu. Dalam bahasa agama disebut dengan al masyaqqah (kesulitan). Jadi, kalau kita beribadah, kita tidak boleh melaksanakan sesuatu yang membahayakan keselamatan diri sendiri atau orang lain, apalagi sampai mengancam kehidupan diri sendiri.

Sehingga ada kaidah ushul fiqh: al masyaqqah tajlibut taysir. Artinya, kesulitan itu menjadikan diperbolehhkan sesuatu, sebagai suatu bentuk kemudahan beragama. Itu juga berkaitan dengan ayat Alquran: ma ja’ala alaikum fiddini min haraji, Allah tidak menjadikan bagimu kesulitan dalam beragama. Oleh karena itu maka berdasarkan pandangan tersebut, menurut saya, badal haji itu boleh dilakukan bagi jemaah yang memang karena kondisinya tidak mampu menunaikan.

“Hanya memang, walaupun ini ikhtilaf, tetapi saya berpendapat, seseorang tidak boleh membadalkan lebih dari satu jamaah haji,” ujarnya.

Kemudian, dilakukan ketika seseorang telah menunaikan wajib hajinya terlebih dahulu. Jadi, yang akan membadalkan sudah menunaikannya terlebih dahulu, baru setelah itu lempar untuk yang dibadalkan. Sehingga, harus dilakukan secara terpisah, dengan urutan mulai dari dirinya sendiri dulu, lalu kemudian untuk jamaah yang dibadalkan.

[sumber]

Biro Umroh Semarang | Dewangga Lil Haji Wal Umroh 📱Whatsaap : 081228155300

KANTOR PUSAT : – Sriwijaya 57 Semarang Telp. (024) 8418218 – Jl. Setiabudi No. 91 Srondol Semarang, Telp. 024 76405900 , 0816650805

KANTOR PERWAKILAN : – Jl. Raya Pati – Tayu Km. 1 Depan Asrama Tentara Alugoro Pati Telp. 0295 383070 , 0852 9003 3398 – Jl. Sunan Abinawa Patebon Kendal Telp. 08122 9999 300 – Jl. Tumenggung Jogonegoro No. 33 Jaraksari – Wonosobo Telp. 0286 323868 , 0822 4282 9361 – Jl. Jend. Sudirman Rembang Depan Pom Bensin Desa Tireman Telp. 0295 383070 , 0852 2802 5000